Wednesday, September 07, 2005

Memahami Perbedaan...

Memahami perbedaan. Mungkin memang bukan hal yang mudah, apalagi kalau menyangkut keyakinan dalam memuja sang khalik, penutupan beberapa rumah ibadah akhir2 ini adalah contoh yang konkret. Saat kebenaran hanya diyakini milik sebagian kelompok, saat itu pula anti pati menyelubungi segenap jiwa. Setiap langkah dan cara memuja Sang Maha Kuasa seolah harus sama, tanpa tedeng aling2, berbeda sedikit langsung mendapat stempel kafir, pola pikir seperti ini bukan hanya mendera kaum mayoritas, yang minoritas pun punya pikiran sama (kebanyakan), perbedaan pemujaan dianggap mencemari Sang Khalik. Mungkin ini pikiran dari manusia yang mencoba menebak arah pikiran Sang Pencipta (ah mungkin saya juga sedang melakukannya saat ini) dengan kemanusiaannya yang amat sangat terbatas. Sepertinya Tuhan berada dalam tas, dan tiada kuasa atas alam semesta. Apa memang betul keangkara murkaan yang terjadi adalah manifestasi wajah-Nya? yang disaat menurunkan rizki, memberikan udara, air, panas, hujan, tidak mempedulikan si kaya, si miskin, perampok, ustadz, atau pendeta?
Saat lingkungan mayoritas merasa "dicemari" oleh peribadahan yang lain, saat itu pula iman menemukan goyah, penuh cemas, kuatir, dan merasa diujung tanduk. Lalu merasa terganggu.
Mungkin kalau sudah begitu bisa ditanya; apakah kita sudah total dalam menyatukan diri dengan-Nya? Mengapa niat itu bisa dikalahkan dengan ketakutan? Bukankah seharusnya ibadah itu khusuk, dengan menutup semua koneksi dengan dunia luar saat berniat untuk ibadah, dan tidak merasa terganggu dengan hal lain?
Ibadah menjadi tercemari prasangka, ketakutan, dan kebencian. Saat mulut memuji Tuhan, disaat yang sama tangan menyakiti ciptaan-Nya. Apakah memang begitu?
Kalau merasa terancam dengan kebaikan2 sosial yang dilakukan umat lain, bukankah itu harusnya menjadi koreksi. Mengapa tidak berbuat hal yang sama atau bahkan lebih? menjadi penolong sesama, dan dapat menyegarkan jiwa yang merasa papa, tertindas, miskin, terluka.
Mungkinkah wibawa Tuhan bisa didapat dari kekerasan, baik fisik ataupun mental? Sependek pengetahuan saya, di dalam agama apapun, Sang Khalik itu maha penyayang dan pengasih. Menyiarkan agama dengan mengadopsi sifat2 Tuhan (walaupun tak kan bisa menandingi) mungin bisa lebih menyusup ke dalam setiap jiwa.
Maafkan saya kalau ungkapan isi hati ini membuat angkara, marah, dan terluka...maaf....saya hanya mengungkapkan, menulis dengan menggunakan kemanusiaan saya yang amat terbatas...

3 comments:

Anonymous said...

perbedaan itu anugerah yak non.. kalo sedunia isinya seragam, uh, alangkah membosankan. gimana manusia mau berkembang..

Intan Bayduri said...

To Mpok:
Setidaknya Tuhan membuat kita berpikir tentang perbedaan, kalau Dia tidak mengingikannya, gak mungkin kita punya kata BEDA, DIFFERENT, dll ...ya gak mpok... :))

Anonymous said...

differences in life teach us lots of things 'n always remind us to always be grateful of everything we have...