IntroMalam semakin larut, hampir pagi malah, langit masih berwarna hitam beludru, bagus sekali, seperti kanvas tanpa bingkai pembatas ketika bintang bermunculan membentuk sebuah gugus yang sangat mempesona, walaupun gue melihatnya dari jendela bus, tetapi pemandangan yang luar biasa itu seperti gue lihat sambil tiduran di padang rumput.
Hari Pertama
Pagi pun menjelang, bintang pun sudah disimpan di balik layar, saatnya mengucapkan selamat pagi pada mentari. Tepat pukul 6 pagi bus yang membawa gue akhirnya menyandarkan pantatnya di terminal Guntur, Garut. Dingin langsung menyambut, hmmm I feel so different. Suasana yang lain telah menyelimuti gue, orang lalu lalang saling sapa dalam bahasa sunda yang kental, penjaja sarapan pagi sudah siap di tempatnya, angkot2 berwarna hijau, kuning, coklat, colt dan becak super sempit berseliweran (untuk ukuran gue hehehe), walaupun baru satu dua. Welcome to Garut. I am ready for "a walk.
Karena sudah biasa menggerus sesuatu di pagi hari, perut pun menuntut diisi, akhirnya pilihan gue jatuh pada penjual sarapan pagi di pinggir terminal, menunya: Nasi Kuning, dengan accessories: semur telur, bala2, tempe tepung, kacang kedelai goreng, plus penghias nasi: krupuk dan bawang goreng. Nikmatnyaaaaa.. dan ritual pagi itu diakhiri dengan menyeruput segelas kopi panas. Sakit perut? oh tentu..makannya kebanyakan sih hihihi...tapi gak apa, bisa diredam. Yang jelas habis itu gue kebingungan cari penginapan, maklum belum pernah ke garut sekalipun, dan gak ada petunjuk. Akhirnya tujuan kita adalah menuju ke pusat kota, dengan begitu mungkin lebih terbu

ka kemungkinan nemu penginapan.
Sampai di kota yang masih sepi dan nyaman itu, kita sibuk cari penginapan, modal nanya sama cari dari buku kuningnya Garut. Dan ternyata cuma ada satu yang tercantum nomer telponnya...ihiks...Jl. Ranggalawe no. 66....
Pencarian jalan Ranggalawe ini nih yang super duper dodol :)) nanya sama penduduk setempat katanya deket, cuma 10 menit, petunjuknya pun cuma "belok kiri dari jalan ini"...setelah belok kiri, tak jua tampak batang hidungnya, tanya lagi "dek, jl ranggalawe dimana ya"...si pelajar berbaju pramuka pun (sepertinya dapat dipercaya) menjawab "habis pertigaan belok kanan teh"...*ooohh oke oke... setelah sampai ke tempat yang diarahkan si adik pramuka tadi...GAK ADA JUGA...Gubraaakkk....udah setengah kota diobok-obok, aduh! :((.
Dan setelah lebih dari 10 orang informan dan penjaja serabi serta menghabiskan waktu sekitar 2 jam!! akhirnya ketemu juga tuh jalan. Hanya ada satu penginapan mungil di jalan itu, dan ternyata bersih juga (ah gak sia2). Untung saja, soalnya udah males cari alternatif lain, kaki gue udah gemporr, paha nyut2an.
Setelah bersih2, da

n bermalas2an sebentar sambil merem2 gak jelas sampe menjelang sore, gue memutuskan untuk jalan2, cari apalagi kalo gak cari makanan. Yang agak mengecewakan kenapa disini semua orang jualan mie bakso? :(( makanan ini mah udah familiar banget, di Jakarta juga banyak, rasanya beda dikit, cuma beda di taburan udang keringnya.
Setelah menghabiskan semangkuk besar mie bakso ala garut, kita jalan2 di pusat kota garut, yang jelas didominasi pertokoan, disini banyak yang menjual tembakau dan cengkeh untuk dijadikan rokok lintingan plus saos tembakaunya, pinginnya sih coba beli, penasaran, tapi urung karena kebanyakan yang nongkrongin aki-aki, rada tengsin juga hehehe.
Setelah puas ber

putar2 di kota yang sejuk itu, gue pulang ke penginapan, istirahat, untuk selanjutnya makan malam di jalan Siliwangi.
Malam pun menjelang, selepas sholat Isya, gue menyusuri jalan Siliwangi, kalau siang jalan ini bisa dilewati mobil, motor, dan kendaraan lain, tapi kalau malam, jangan harap, jl. Siliwangi seperti disulap menjadi pasar malam kecil, tapi isinya pedagang makanan semua, di kiri dan kanan, jalan ditengah2 antara para pedagang itu hanya cukup dilewati pejalan kaki, atau sepeda motor dan becak yang nekat berusaha menerobos untuk sampai ke ujung jalan.
Makanan disini rasanya manis, bahkan masakan sunda yang menyediakan ayam goreng dan bakar beserta lalapnya yang harusnya gurih, pedas, dan segar.
Setelah makan, kita nongkrong di warung kopi yang lumayan "cozy", soda susu campur jeruk peras menjadi pilihan, segar, dan gak terlalu manis, oke deh pokoknya, lumayan untuk menetralisir rasa manis dari bumbu dan sambal ayam goreng tadi.
Dan sekarang waktunya tidur, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, besok adalah hari yang ditunggu2. The next day I'll be going to Papandayan.
Hari kedua
Perjalanan ke Papandayan memakan waktu kurang dari satu jam, dari Garut hanya naik colt jurusan Bandung satu kali menuju ke alun2 Ciseureupan. Dari alun2 Ciseureupan disambung ojek, ongkosnya 10.000 rupiah, gak terlalu mahal sih, mengingat jalan naik ke alun2 satu kawasan gunung Papandayan berkelok2 dan menanjak, dan tentunya dingin buanget, karena kita naik masih jam 6.30 pagi, kabut juga masih tebal. Orang2 dusun di kawasan gunung papandayan sudah aktif bekerja, ibu2, bapak2, kakek nenek, sudah berlalu lalang membawa pikulan masing2, lingkungan yang masih alami jarang polusi dan paksaan keadaan membuat stamina mereka sangat fit apalagi dibanding "orang kota"...salut! Pemandangan kiri kanan jalan bagus banget. Kebun, sawah, bunga liar, pohon2 besar, edelweis, sayur-mayur yang siap diangkut pengepul, plus hamparan kabut tipis yang kadang menebal, mengingatkan gue akan lukisan2 yang sering dibuat para seniman, dan yang ini jelas lebih keren ^_^
Setelah kira2 15 menit

akhirnya sampai juga di alun2 satu, dibawalah kita sama tukang ojek ke salah satu warung kopi di kawasan pelataran alun2, si empunya warung yang ternyata bibi si tukang ojek orangnya ramah banget, tukang ojeknya juga, kita ditawari masuk ke bagian belakang warung, disuguhi air teh hangat, dan menyilakan duduk di bale2 yang depannya ada tungku berbahan kayu bakar, seperti api unggun. Karena belum sarapan, gue pesen nasi goreng sepiring, tentunya tanpa kecap. Rasanya...hmmm standar sih, lumayan lah daripada gak ada hehehe...yang jelas si bibi dan tukang ojek ini menurut gue mempunyai kemampuan marketing yang baik, membuat orang merasa hommy, dan nyaman walaupun dengan kesederhanaan fasilitas, jadi kayaknya gue gak kapok deh :))
Tiba saatnya untuk "naik", Papandayan adalah gunung yang gak tinggi2 amat, kalo udah expert gak mungkin kesusahan apalagi merasa super lelah kalau mendaki Papandayan, jalurnya juga jalur turis, jadi pas lah untuk gue yang jarang sekali mendaki gunung:P, gue cuma berbekal satu ransel kecil dan bersandal jepit (gila salah banget deh gue, gak gak lagi pake sendal jepit!). Jalan masuk ke kawasan cagar alam masih friendly walking, jalannya lebar, kiri kanan bunga liar, berkabut, dan tentunya keren. Foto2 deh...klik..klik...jepret jepret, pokoknya apapun gue foto.
Sampai ke "pintu gerbang" gunung mulailah jalan menerjal, licin berpasir dan berkerikil, satu dua pendaki pun sudah tampak, mendaki...dan mendaki....kawah2 pun mulai tampak, bau belerang menyengat, oh iya..kawah di Papadayan sudah bisa dinikmati setelah jalan 30 - 40 menitan, kawah yang ada di "bawah" ini mungkin kawah2 baru karena Papandayan belum lama bangun, kalo gak salah th. 2003 meletus jadi muntahan materialnya masih agak "hangat" dan tentunya menimbulkan

kawah baru, yang gue liat disini ada 3 kawah, ini baru dibawah. Cuma gue gak sempet deketin, selain gak mau konyol karena gak ada guide, juga karena gue liat gak ada yang nyamperin, jadi hanya puas melihat dan menikmati baunya hehehe, gue jadi inget gatot koco mungkinkah tubuhnya berparfum belerang? hihihi...
Ngos2an...sudah tentu, jantung rasanya mau copot, otot mau buyar, untuk orang yang jarang olahraga dan gak langsing, tentunya betul2 rrruuuaaaarrr biasa! gue sempet mikir, sampe gak gue keatas. Sempet mikir juga, jangan2 gue bakalan kehabisan oksigen atau serangan jantung.

Makin lama jalan gue makin lambat, sebentar2 berhenti, ambil nafas, mengais2 oksigen, dan tentunya sudah kebalap sama pendaki berpengalaman, apalagi sama penduduk lokal, hebatnya ada nenek2 nyalip gue, bawa gendongan pula, ampun deh. Sepertinya dibalik punggung Papandayan ada beberapa kebun dan sawah yang sehari2 mereka garap dan jalan gunung adalah jalan satunya menuju ladang hidup mereka. Satu dua pekerja lokal seperti halnya si nenek, melewati gue dengan sigapnya, layaknya jalan di Plaza Senayan, yang berlantai marmer licin tanpa hambatan. Hebat hebat hebat...nafas mereka sama sekali gak terlihat tersengal2, benar2 santai cok! dan gue mengutuk diri sendiri...Olahraga makanya!!!
Setelah 1 jam perjalanan akhirnya sampai juga gue ke padang luas, gak berundak2 lagi, banyak batu besar. Ah..lumayan buat istirahat. Dari sini gugusan pohon edelweis yang belum berbunga nampak indah, ijo royo2. Setelah beriistirahat selama beberapa menit, gue meneruskan perjalanan menuju...Sungai Kecil! Yak...sedikit lagi gue sampai ke Tempat Sasaran, "lantai penghubung" antara "pinggang gunung" ke padang edelweis yang berada sebelum puncak Papandayan, tadinya target kita adalah ke padang edelweis, tapi karena waktu mepet, dan gak ada planning buat bikin camp jadi ya sudah lah, "lantai penghubung" tadi adalah target kita.
Setelah sampai di sungai kecil itu, istirahat lagi, cuci2 tangan dan kaki, duduk2 di batu2 besar, sambil minum,dari sungai kecil itu kita bisa melihat ke jalan menukik ke atas menuju ke daerah target. Apa lacur sudah terlanjur, gak akan mundur sebelum sampai sana, batin gue. Perasaan kecutpun sedikit menerpa, waktu lihat ke atas ke jalan menukik itu, banyak pendaki2 yang mulai turun, mungkin mereka sudah dari kemarin, bahu membahu turun pelan2...dalam hati gue bilang "gila mereka aja kesusahan gitu turunnya...gimana gue ya!" ah bodo deh, jalanin dulu baru tau..ya gak..ya gak!
AKhirnya gue sampai ke "tangga" pertama...uuughhh...bismillah...hap...hap...satu...satu...pegang kayu...pegang dahan..pegang akar...bergantung pada pohon2 liar yang menjadi tumpuan tangan...perutpun gak sempet melar, yang ada tahan napas, sambil berdoa, semoga gue bisa pulang. lalu kepleset sedikit, satu dua...satu dua naik...naik...kaki merinding, pas ngeliat kebawah, ternyata sudah jauuuh bo...untungnya gak pobia ketinggian, tapi tetep aja...deg2an!
Ya Intan..sedikit lagi, 5 langkah lagi samp!!! ayo2. Dan setelah satu jam, akhirnya sampai juga, alhamdullillah!! terimakasih Tuhan!! aaahhh...senangnyaaaa...pemandangan dari sini bagus banget, dan gue bangga juga sih, untuk orang yang jarang olahraga setidaknya gue bisa sampai setengah gunung hehehe...
Disini gue berhenti agak lama, menikmati dulu lah. Pinginnya sih nerusin lagi, tapi jam sudah menunjukkan jam 10 pagi, target gue jam 12 siang sudah harus sampai di warung si bibi, berarti cuma punya waktu 2 jam lagi, dan gak mungkin sempet kalo harus nerusin perjalanan sampe padang edelweis yang kurang lebih satu jam perjalanan lagi.
Tiba saatnya "turun gunung", and trust me!! turun gunung itu 3 x lebih menakutkan daripada naik. Baru pertama menginjak jalan turun aja gue udah kepleset, untung gak guling2 kebawah, ampun deh. Pilihan gue: Nyeker aja deh. Padahal harusnya gak boleh, resiko tertusuk kerikil dan jadi inceran uler lebih besar. Tapi gue lebih takut kepleset apalagi gue pake sendal jepit, licin banget!! Perjalanan turun seperti jalan yang gak pernah gue lewati, padahal sama. Tampak bawah dan tampak atas betul2 lain. Satu..dua...bertumpu lagi ke dahan2, lebih lambat daripada naik...betul2 scary, liciiiiiin....
Setelah 1 jam tibalah gue di titik awal, gue sudah berada di "tangga pertama" jaan menukik tadi. Thanks God I am a live.
Dan perjalanan menuju sungai kecil tadi, lalu kawah2 tadi rasanya lebih menyenangkan, karena tahap yang paling mengerikan sudah lewat, layaknya turis aja, udah bisa ketawa2. Lega. Saking leganya gue sempet jatuh terguling di lahan yang "relatif aman" danlandai sekali. Gak parah sih, lecet aja dikit. Kayak jatuh kesandung di jalan aspal. Dan perjalanan ke bawah lebih menyenangkan, terasa cepat, walaupun tetap sulit. Akhirnya "pintu masuk" cagar alam hampir terlihat.
Tepat jam 12 siang, sesuai perkiraan, akhirnya sampai juga di warung si bibi, yang jelas gue pengen Bandrek! eh bandrek disini enak sekali loooh, bukan bandrek instan, tapi racikan sendiri..pedes, anget, manisnya pas tenan, minum sambil selonjoran, nikmat sekali, paha udah "ludes" biarin deh, yang jelas gue seneng. Pendakian kecil ini membuat gue bersyukur dikasih hidup, yang jelas gue merasa lemah dan kecil, tiada kuasa. Kepasrahan dan pemandangan yang menakjubkan membuat kebesaran Ilahi lebih terasa.
Jam 2 siang siap2 pulang ke penginapan, si abang ojek yang sudah janji menjemput (cieh janjian loh) sudah tiba, setelah zuhur kita cabut. Motor RX king si tukang ojek menderu, berjalan meluncur kebawah, kadang mesin motornya dimatiin, pemandangan kiri kanan jalan masih belum berubah, tetap menakjubkan, transaksi dagang pengepul dengan petani masih berlangsung, timbang menimbang sayur berjalan. Anak2 sekolah mulai tampak pulang. Dan tentunya masih dingin mengigit.
Setelah sampai di alun2 Ciseureupan, perpisahan dengan si tukang ojekpun berlangsung, jangan kapok dan sering2 kesini ya neng. Tentunya gak sampai nangis2an loh hehehe.
Sore hari udah sampai di Garut, karena seharian energi habis diperas rasa penasaran akan Papandayan, perutpun minta diisi, tujuan selanjutnya rumah makan ampera, bayangan gue: nasi + lauk pauk sundanesse seperti di rumah makan ampera, Bandung. Dan ternyata rasanya...manis lagi :(( ampera disini bukan ampera seperti yang ada di Bandung...ihiks...tapi gak apa2..sikat aja lah.
Setelah sampai penginapan, mandi, dan sholat magrib, gue jalan2 lagi ke jl. Siliwangi, nongkrong di warung kopi yang kemarin, kali ini pesanan gue bukan soda susu jeruk, tapi kopi panas. Nikmaaattt.
Going Home...
Pulang...mari kita pulang...puncak gunung Papandayan masih terlihat dari balik jendela bus, menggantung di langit, termangu, dan masih takjub, yang disesalkan adalah: g

ak sempet beli pepes ikan mas mak Ecot (bukan mak Erot loh).
Pemandanganpun berganti, memasuki subang, terus ke padalarang, atmosfir kota besar pun sudah terasa, bus sudah memasuki Bandung, masuk tol Cipularang. Terus dan terus...
Hanya perlu waktu 3 jam, dan akhirnya...Welcome home Mimi...
I'll be going to Papandayan again. Dan kali lain semoga gue bisa stay one night up there.
*And live goes on...ayo..kerja lagi!! hap hap hap....*