Tuesday, September 27, 2005

Papa....dan Mimi.....

Kalau ditanya siapa orang yang paling deket tapi sering berantem atawa beda pendapat, pasti gue jawab bokap! papaku yang lucu, supel, murah senyum, tapi sekaligus galak, keras kepala, tidak sabaran, dan sedikit pelupa (maaf ya pa, aku cuma berusaha objektif :)). Dan gara2 keras kepala itu kita jadi sering sekali bersitegang, tapi tenang..marahnya papa pasti cuma beberapa saat, karena baik aku maupun papa sama2 pemaaf, dan sama2 gak gede di gengsi, jadi sekarang marahan sejam kemudian baikan, dan bisa becanda2 lagi.
Papaku kemarin ulang tahun, rambut putih yang hampir menutupi seluruh kepalanya menandakan beliau sudah sepuh, setengah abad lebih 11 tahun.
Suatu saat mimi kecil nangis dalam diam, tertelungkup di kursi ruang tamu, baru saat itu mimi kecil nangis ala orang gede, tanpa suara (bukan gak mungkin orang dewasa nangis meraung2 ala anak kecil sih). Saat itu mimi dan keluarga masih tinggal di Surabaya, kota panas, tapi mimi cinta setengah mati hehehe.
Disela2 isak tangisnya papa mendekat, mengelus2 kepala mimi kecil yang mempunyai uyeng2 nyaris dua. Trus nanya "kenapa sih?", lalu mimi kecil tambah nangis, kali ini keras, sambil peluk papanya yang ganteng itu, "aku mau ikut papa! aku mau ikuttt!". Ya..saat itu papa memang sedang bersiap2 pergi ke Ujung Pandang, mau tugas ceritanya. Mimi gak lepas2 pinggang papa. Maklum mimi gak biasa jauh dari papa, kemana papa pergi mimi selalu diajak, keliling kota, makan tahu tek, berkunjung ke teman papa, bahkan acara kantor di denpasar waktu dulu, mama gak diajak karena mimi punya adik kecil, lagipula tiketnya cuma 2 waktu itu.
Kalau mimi batuk, papa selalu ajak mimi ke warung jamu langganan, mimi memang lebih suka minum jamu batuk kalo lagi sakit, bukan karena demen sama rasa jamu yg pahit itu, tapi karena di warung jamu langganan itu punya gula2 alias permen hijau yang di selimuti gula pasir yang mimi suka, sukaaaa sekali.
Saat itu keberangkatan papa ke Ujung Pandang ditunda sehari, mama dan papa memutuskan kalo mimi ikut papa, nemenin papa. Mimi senang alang bukan kepalang. Tidak nangis lagi, langsung mengemasi barang2 pribadi, seperi boneka kumel tapi serem bergigi dua berwarna merah (kalo sekarang lihatnya lucu, bukan serem), plus foto adik mimi dipangku mama.
Mama di Surabaya sama adik, saat itu mama hamil tua, jadi gak bisa ikut sama kita.
Di Ujung Pandang mimi dan papa menghabiskan waktu hanya berdua selama kurang lebih hampir setahun, dari nol besar sampe kelas 1 SD. Setiap minggu papa pasti membawa mimi ke toko mainan Hoya, dan papa selalu mendudukkan mimi atas punggung donald duck yang bisa goyang2 ke kanan dan ke kiri, papa memang paling ngerti apa maunya mimi. Mimi sayang papa.
Oh iya hampir setiap akhir pekan mimi dan papa jalan2, paling seneng sih ke Pantai Losari, makan pisang epek, pisang kepok yang dijepit sampai penyet, dibakar diatas bara api, trus di lumuri gula merah, syedap banget deh. Atau ke Restaurant Gajah, menu favorit adalah sup asparagus kepiting. (Mungkin gara2 papa juga sampai saat ini gue hobi makan hehehehehe...).
Rasa kangen ke mama dan adik cuma bisa diobati dengan surat, dan kiriman foto terbaru mereka, kadang mimi sedih juga sih.
Masa-masa hanya berdua dengan papa berakhir pada saat mimi kelas 1 SD, waktu itu tahun 1983, adik mimi yang bungsu lahir, waktunya menjemput mama dan adik2 di Surabaya. Senangnyaaaa ketemu dan berkumpul lagi dengan mereka.
Lalu kami sekeluarga pindah ke Jakarta, disinilah masa2 remaja sampai dewasa gue lewati.
Setelah besar, dan seiring semakin banyaknya masalah, kejadian, baik, buruk, dan bertambahnya pengalaman hidup, semakin sering juga berbeda pandangan sama bokap. Kata bokap, gue itu nekat, mbelis, ndablek. Kata gue, bokap itu keras kepala, dan masih saja menganggap gue anak kecil. @@@@****###@@@ aaaaggghhh...!
Tapi gue yakin semua itu karena bokap masih sayang sama gue. Karena ternyata sering tambah umur, pikiran dan perasaan gue juga mulai kayak orang tua. Betapa gue kuatir sama kegiatan2 adik2 gue, menyeleksi teman2 mereka, bawaannya sewot kalo mereka pulang telat dan gak ada laporan. Dan itu karena gue sayang mereka.
Gue dan bokap ternyata sama aja..hehehe...
Dari bokap gue belajar banyak banget, belajar bergaul, membawa diri (sampai sekarang gue masih bego aja sih hihihi), marketing communication, cara2 menghadapi orang, menyenangkan hati orang lain, kemandirian, berdansa, musik dan lagu (walaupun cuma jago dengerin, dan jadi penyanyi kamar mandi), seni, budaya, alam, semuanya.
Ah..papa memang sudah menjadi salah satu sumber inspirasi hidupku selain mama, yang lama kelamaan aku menyerupai cetakannya.
Selamat ulang tahun papa. Semoga papa bahagia, semoga Allah semakin mencintaimu seperti cinta mama, aku dan adik2 yang semakin lama juga semakin besar.
*I love you so much papa... *hugs

Friday, September 23, 2005

Pijat...Monggo Kerso...

Malem ini enak kali ya kalo pijat plus. Maksudnya pijat plus kerok. Kegiatan yang satu ini lebih gue sukai ketimbang minum obat atau nenggak jamu instant. Bahkan dalam kondisi sehat wal afiat saya ini hobi sekali dipijat (sebenernya ngomong pijet lebih enak, Cuma gak sesuai saa EYD heuehueh duile kayak yang selalu pake EYD ajah deh ;)).
Hobi gue ini ditunjang juga dengan tersedianya tukang2 pijat yang oke banget di sekitar rumah, seperti yu Sumi. Doi ini bertangan seperti baja tapi rasa bulu angsa (cielee..apa coba), maksudnya kuat tapi lembut, manteb deh, plus doi juga jago ngobrol, lucu, dan ngocol, makanya gue gak segan2 ngasih tambahan rada banyak, tarifnya tergolong murah cuma 20 ribu perak, sepuasnya, sampe ngorok kalo perlu.
Tapi semenjak yu Sumi pulang kampung nengokin anak tersayang, dan suaminya tercinta, otomatis hobi gue yang satu ini jarang ditekuni lagi. Paling2 pijat refleksi dan tentunya gak seenak yu Sumi rasanya.
Ada pengalaman yang lucu dan rada sedikit nggilani. Ceritanya nih, bokap juga sering pijat, pernah sekali waktu nyobain jasanya tukang pijat tuna netra yang sering lewat rumah. Setelah setengah jam berlalu tiba2 bokap gue gak ngerasain pijatannya lagi, pas diliat si bapak tukang pijat ini tidur! Dan tiba2 tercium aroma karbon monoksida yang…uhuuuy deh, serasa aroma therapy. Alhasil karena udah ilfil, yang niatnya pijat satu jam jadi setengah jam.
Ya ya ya…pijat emang enak, kalo therapist-nya pinter, apalagi kalo emang udah bakat kayak yu Sumi, langsung deh…migren bisa ilang, badan segar. Selain itu pijat bisa mengurangi stress, dan katanya nih bisa menambah kewaspadaan, plus meningkatkan kemampuan memecahkan soal matematika (mungkin salah satu alasannya bayi selalu dipijat karena ini ya, biar pinter juga hehehehe). Biasanya setelah dipijat, mood gue jadi lebih santai..hhhhmmm..nyaman deh. Ihiks jadi kepingin.
Disini bisa ditemukan panti2 pijat atau daftar tukang pijat dari yang bener sampe yang rasa2nya agak nakal, tapi bolehlah infonya, lumayan lengkap.
Asik kali ya kalo waktu istirahat di kantor bisa pijet, panggil tukang pijet buat pijet kolektif. Wuih senang sekali ;)
Ah daripada mengkhayal terus mendingan kerja lagi deh. Seoles dua oles counterpain bisa membantu lah (ih kok jadi promosi).
Biarlah kunikmati pegel ini sampai nanti...syalala syalala syalalalala (sambil ngurut2 kaki plus dengerin U2). Hmmm kalo Bono yang mijet asik sekali hehehe "monggo kerso mbak, kulo pijet" kata Bono.
Loh kok mengkhayal lagi :O *Plok

Tuesday, September 20, 2005

Yoyo

Kemarin sore waktu jalan2 di kompleks pertokoan dekat rumah, gue ketemu yoyo. Bukan si yoyo di sinetron yang gak jelas itu, tapi yoyo si bulat yang bisanya naik dan turun. Lucu, menggemaskan, pingin beli, buat koleksi. Tapi sayang ternyata gak dijual, “Cuma buat display aja kok mbak” kata si pramuniaganya….ooooh, ya sudah ndak apa2 :)
Dan akhir2 ini, gue merasa seperti si yoyo, yang demennya naik turun gak jelas, bukan lantaran tangga, tapi berat badan!...dan seperti biasa, acara kantor, meeting, dan kumpul2 jadi kambing hitam, karena acara2 kayak gitu biasanya menyediakan “nutrisi” berlimpah yang jadi sasaran gue. Soes isi ragout, kroket keju, lemper, sosis solo, risoles, dkk…
Mereka (kudapan2 yang sudah disebutkan tadi) senasib sama babi hutan demenannya obelix. Ya..gue emang kayak obelix yang jadi liar dan lari2 gak karuan ngejar2 si babi hutan malang beserta saudara2nya itu.
Begitu liat makanan dengan tekstur yang “lucu” dengan rasa gurih, medok, dan sarat isi, gue langsung lupa kalo gue harus diet (tahun depan harus langsing, kalo gak mau jadi bacang pas pake kebaya). Risol dan sepupunya dalam sekejap bersemayan di perut gue. Alhasil besoknya naik 1 kilo! Padahal baru sebulan ini jarum timbangan di rumah bergeser ke kiri dua strip :(( hu hu hu hu….
Fitness! Kayaknya ini satu2nya jalan merombak metabolisme yang udah salah. Semoga bulan depan gue udah bisa nongkrongin gym. Kebetulan lagi dalam waktu dekat memasuki bulan puasa…bulan detoksifikasi plus perampingan…sip deh ;) (ih kok jadi pamrih sih).
Dan gue tetap optimis, semoga dengan ditambah ritme kerja yang biramanya 1 per 2 ini gue bisa cepet menyusut.
Mudah-mudahan tahun depan kebaya cantik itu bisa serasi sama gue….dan gak jadi miss bacang :))
Hhhhhmm..rasa rasanya yoyo bagus juga untuk suvenir ya ;)


Friday, September 16, 2005

Tour de Garut...Goes to Papandayan





Intro
Malam semakin larut, hampir pagi malah, langit masih berwarna hitam beludru, bagus sekali, seperti kanvas tanpa bingkai pembatas ketika bintang bermunculan membentuk sebuah gugus yang sangat mempesona, walaupun gue melihatnya dari jendela bus, tetapi pemandangan yang luar biasa itu seperti gue lihat sambil tiduran di padang rumput.

Hari Pertama
Pagi pun menjelang, bintang pun sudah disimpan di balik layar, saatnya mengucapkan selamat pagi pada mentari. Tepat pukul 6 pagi bus yang membawa gue akhirnya menyandarkan pantatnya di terminal Guntur, Garut. Dingin langsung menyambut, hmmm I feel so different. Suasana yang lain telah menyelimuti gue, orang lalu lalang saling sapa dalam bahasa sunda yang kental, penjaja sarapan pagi sudah siap di tempatnya, angkot2 berwarna hijau, kuning, coklat, colt dan becak super sempit berseliweran (untuk ukuran gue hehehe), walaupun baru satu dua. Welcome to Garut. I am ready for "a walk.
Karena sudah biasa menggerus sesuatu di pagi hari, perut pun menuntut diisi, akhirnya pilihan gue jatuh pada penjual sarapan pagi di pinggir terminal, menunya: Nasi Kuning, dengan accessories: semur telur, bala2, tempe tepung, kacang kedelai goreng, plus penghias nasi: krupuk dan bawang goreng. Nikmatnyaaaaa.. dan ritual pagi itu diakhiri dengan menyeruput segelas kopi panas. Sakit perut? oh tentu..makannya kebanyakan sih hihihi...tapi gak apa, bisa diredam. Yang jelas habis itu gue kebingungan cari penginapan, maklum belum pernah ke garut sekalipun, dan gak ada petunjuk. Akhirnya tujuan kita adalah menuju ke pusat kota, dengan begitu mungkin lebih terbuka kemungkinan nemu penginapan.
Sampai di kota yang masih sepi dan nyaman itu, kita sibuk cari penginapan, modal nanya sama cari dari buku kuningnya Garut. Dan ternyata cuma ada satu yang tercantum nomer telponnya...ihiks...Jl. Ranggalawe no. 66....
Pencarian jalan Ranggalawe ini nih yang super duper dodol :)) nanya sama penduduk setempat katanya deket, cuma 10 menit, petunjuknya pun cuma "belok kiri dari jalan ini"...setelah belok kiri, tak jua tampak batang hidungnya, tanya lagi "dek, jl ranggalawe dimana ya"...si pelajar berbaju pramuka pun (sepertinya dapat dipercaya) menjawab "habis pertigaan belok kanan teh"...*ooohh oke oke... setelah sampai ke tempat yang diarahkan si adik pramuka tadi...GAK ADA JUGA...Gubraaakkk....udah setengah kota diobok-obok, aduh! :((.
Dan setelah lebih dari 10 orang informan dan penjaja serabi serta menghabiskan waktu sekitar 2 jam!! akhirnya ketemu juga tuh jalan. Hanya ada satu penginapan mungil di jalan itu, dan ternyata bersih juga (ah gak sia2). Untung saja, soalnya udah males cari alternatif lain, kaki gue udah gemporr, paha nyut2an.
Setelah bersih2, dan bermalas2an sebentar sambil merem2 gak jelas sampe menjelang sore, gue memutuskan untuk jalan2, cari apalagi kalo gak cari makanan. Yang agak mengecewakan kenapa disini semua orang jualan mie bakso? :(( makanan ini mah udah familiar banget, di Jakarta juga banyak, rasanya beda dikit, cuma beda di taburan udang keringnya.
Setelah menghabiskan semangkuk besar mie bakso ala garut, kita jalan2 di pusat kota garut, yang jelas didominasi pertokoan, disini banyak yang menjual tembakau dan cengkeh untuk dijadikan rokok lintingan plus saos tembakaunya, pinginnya sih coba beli, penasaran, tapi urung karena kebanyakan yang nongkrongin aki-aki, rada tengsin juga hehehe.
Setelah puas berputar2 di kota yang sejuk itu, gue pulang ke penginapan, istirahat, untuk selanjutnya makan malam di jalan Siliwangi.
Malam pun menjelang, selepas sholat Isya, gue menyusuri jalan Siliwangi, kalau siang jalan ini bisa dilewati mobil, motor, dan kendaraan lain, tapi kalau malam, jangan harap, jl. Siliwangi seperti disulap menjadi pasar malam kecil, tapi isinya pedagang makanan semua, di kiri dan kanan, jalan ditengah2 antara para pedagang itu hanya cukup dilewati pejalan kaki, atau sepeda motor dan becak yang nekat berusaha menerobos untuk sampai ke ujung jalan.
Makanan disini rasanya manis, bahkan masakan sunda yang menyediakan ayam goreng dan bakar beserta lalapnya yang harusnya gurih, pedas, dan segar.
Setelah makan, kita nongkrong di warung kopi yang lumayan "cozy", soda susu campur jeruk peras menjadi pilihan, segar, dan gak terlalu manis, oke deh pokoknya, lumayan untuk menetralisir rasa manis dari bumbu dan sambal ayam goreng tadi.
Dan sekarang waktunya tidur, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, besok adalah hari yang ditunggu2. The next day I'll be going to Papandayan.
Hari kedua
Perjalanan ke Papandayan memakan waktu kurang dari satu jam, dari Garut hanya naik colt jurusan Bandung satu kali menuju ke alun2 Ciseureupan. Dari alun2 Ciseureupan disambung ojek, ongkosnya 10.000 rupiah, gak terlalu mahal sih, mengingat jalan naik ke alun2 satu kawasan gunung Papandayan berkelok2 dan menanjak, dan tentunya dingin buanget, karena kita naik masih jam 6.30 pagi, kabut juga masih tebal. Orang2 dusun di kawasan gunung papandayan sudah aktif bekerja, ibu2, bapak2, kakek nenek, sudah berlalu lalang membawa pikulan masing2, lingkungan yang masih alami jarang polusi dan paksaan keadaan membuat stamina mereka sangat fit apalagi dibanding "orang kota"...salut! Pemandangan kiri kanan jalan bagus banget. Kebun, sawah, bunga liar, pohon2 besar, edelweis, sayur-mayur yang siap diangkut pengepul, plus hamparan kabut tipis yang kadang menebal, mengingatkan gue akan lukisan2 yang sering dibuat para seniman, dan yang ini jelas lebih keren ^_^
Setelah kira2 15 menit akhirnya sampai juga di alun2 satu, dibawalah kita sama tukang ojek ke salah satu warung kopi di kawasan pelataran alun2, si empunya warung yang ternyata bibi si tukang ojek orangnya ramah banget, tukang ojeknya juga, kita ditawari masuk ke bagian belakang warung, disuguhi air teh hangat, dan menyilakan duduk di bale2 yang depannya ada tungku berbahan kayu bakar, seperti api unggun. Karena belum sarapan, gue pesen nasi goreng sepiring, tentunya tanpa kecap. Rasanya...hmmm standar sih, lumayan lah daripada gak ada hehehe...yang jelas si bibi dan tukang ojek ini menurut gue mempunyai kemampuan marketing yang baik, membuat orang merasa hommy, dan nyaman walaupun dengan kesederhanaan fasilitas, jadi kayaknya gue gak kapok deh :))
Tiba saatnya untuk "naik", Papandayan adalah gunung yang gak tinggi2 amat, kalo udah expert gak mungkin kesusahan apalagi merasa super lelah kalau mendaki Papandayan, jalurnya juga jalur turis, jadi pas lah untuk gue yang jarang sekali mendaki gunung:P, gue cuma berbekal satu ransel kecil dan bersandal jepit (gila salah banget deh gue, gak gak lagi pake sendal jepit!). Jalan masuk ke kawasan cagar alam masih friendly walking, jalannya lebar, kiri kanan bunga liar, berkabut, dan tentunya keren. Foto2 deh...klik..klik...jepret jepret, pokoknya apapun gue foto.
Sampai ke "pintu gerbang" gunung mulailah jalan menerjal, licin berpasir dan berkerikil, satu dua pendaki pun sudah tampak, mendaki...dan mendaki....kawah2 pun mulai tampak, bau belerang menyengat, oh iya..kawah di Papadayan sudah bisa dinikmati setelah jalan 30 - 40 menitan, kawah yang ada di "bawah" ini mungkin kawah2 baru karena Papandayan belum lama bangun, kalo gak salah th. 2003 meletus jadi muntahan materialnya masih agak "hangat" dan tentunya menimbulkan kawah baru, yang gue liat disini ada 3 kawah, ini baru dibawah. Cuma gue gak sempet deketin, selain gak mau konyol karena gak ada guide, juga karena gue liat gak ada yang nyamperin, jadi hanya puas melihat dan menikmati baunya hehehe, gue jadi inget gatot koco mungkinkah tubuhnya berparfum belerang? hihihi...
Ngos2an...sudah tentu, jantung rasanya mau copot, otot mau buyar, untuk orang yang jarang olahraga dan gak langsing, tentunya betul2 rrruuuaaaarrr biasa! gue sempet mikir, sampe gak gue keatas. Sempet mikir juga, jangan2 gue bakalan kehabisan oksigen atau serangan jantung.
Makin lama jalan gue makin lambat, sebentar2 berhenti, ambil nafas, mengais2 oksigen, dan tentunya sudah kebalap sama pendaki berpengalaman, apalagi sama penduduk lokal, hebatnya ada nenek2 nyalip gue, bawa gendongan pula, ampun deh. Sepertinya dibalik punggung Papandayan ada beberapa kebun dan sawah yang sehari2 mereka garap dan jalan gunung adalah jalan satunya menuju ladang hidup mereka. Satu dua pekerja lokal seperti halnya si nenek, melewati gue dengan sigapnya, layaknya jalan di Plaza Senayan, yang berlantai marmer licin tanpa hambatan. Hebat hebat hebat...nafas mereka sama sekali gak terlihat tersengal2, benar2 santai cok! dan gue mengutuk diri sendiri...Olahraga makanya!!!
Setelah 1 jam perjalanan akhirnya sampai juga gue ke padang luas, gak berundak2 lagi, banyak batu besar. Ah..lumayan buat istirahat. Dari sini gugusan pohon edelweis yang belum berbunga nampak indah, ijo royo2. Setelah beriistirahat selama beberapa menit, gue meneruskan perjalanan menuju...Sungai Kecil! Yak...sedikit lagi gue sampai ke Tempat Sasaran, "lantai penghubung" antara "pinggang gunung" ke padang edelweis yang berada sebelum puncak Papandayan, tadinya target kita adalah ke padang edelweis, tapi karena waktu mepet, dan gak ada planning buat bikin camp jadi ya sudah lah, "lantai penghubung" tadi adalah target kita.
Setelah sampai di sungai kecil itu, istirahat lagi, cuci2 tangan dan kaki, duduk2 di batu2 besar, sambil minum,dari sungai kecil itu kita bisa melihat ke jalan menukik ke atas menuju ke daerah target. Apa lacur sudah terlanjur, gak akan mundur sebelum sampai sana, batin gue. Perasaan kecutpun sedikit menerpa, waktu lihat ke atas ke jalan menukik itu, banyak pendaki2 yang mulai turun, mungkin mereka sudah dari kemarin, bahu membahu turun pelan2...dalam hati gue bilang "gila mereka aja kesusahan gitu turunnya...gimana gue ya!" ah bodo deh, jalanin dulu baru tau..ya gak..ya gak!
AKhirnya gue sampai ke "tangga" pertama...uuughhh...bismillah...hap...hap...satu...satu...pegang kayu...pegang dahan..pegang akar...bergantung pada pohon2 liar yang menjadi tumpuan tangan...perutpun gak sempet melar, yang ada tahan napas, sambil berdoa, semoga gue bisa pulang. lalu kepleset sedikit, satu dua...satu dua naik...naik...kaki merinding, pas ngeliat kebawah, ternyata sudah jauuuh bo...untungnya gak pobia ketinggian, tapi tetep aja...deg2an!
Ya Intan..sedikit lagi, 5 langkah lagi samp!!! ayo2. Dan setelah satu jam, akhirnya sampai juga, alhamdullillah!! terimakasih Tuhan!! aaahhh...senangnyaaaa...pemandangan dari sini bagus banget, dan gue bangga juga sih, untuk orang yang jarang olahraga setidaknya gue bisa sampai setengah gunung hehehe...
Disini gue berhenti agak lama, menikmati dulu lah. Pinginnya sih nerusin lagi, tapi jam sudah menunjukkan jam 10 pagi, target gue jam 12 siang sudah harus sampai di warung si bibi, berarti cuma punya waktu 2 jam lagi, dan gak mungkin sempet kalo harus nerusin perjalanan sampe padang edelweis yang kurang lebih satu jam perjalanan lagi.
Tiba saatnya "turun gunung", and trust me!! turun gunung itu 3 x lebih menakutkan daripada naik. Baru pertama menginjak jalan turun aja gue udah kepleset, untung gak guling2 kebawah, ampun deh. Pilihan gue: Nyeker aja deh. Padahal harusnya gak boleh, resiko tertusuk kerikil dan jadi inceran uler lebih besar. Tapi gue lebih takut kepleset apalagi gue pake sendal jepit, licin banget!! Perjalanan turun seperti jalan yang gak pernah gue lewati, padahal sama. Tampak bawah dan tampak atas betul2 lain. Satu..dua...bertumpu lagi ke dahan2, lebih lambat daripada naik...betul2 scary, liciiiiiin....
Setelah 1 jam tibalah gue di titik awal, gue sudah berada di "tangga pertama" jaan menukik tadi. Thanks God I am a live.
Dan perjalanan menuju sungai kecil tadi, lalu kawah2 tadi rasanya lebih menyenangkan, karena tahap yang paling mengerikan sudah lewat, layaknya turis aja, udah bisa ketawa2. Lega. Saking leganya gue sempet jatuh terguling di lahan yang "relatif aman" danlandai sekali. Gak parah sih, lecet aja dikit. Kayak jatuh kesandung di jalan aspal. Dan perjalanan ke bawah lebih menyenangkan, terasa cepat, walaupun tetap sulit. Akhirnya "pintu masuk" cagar alam hampir terlihat.
Tepat jam 12 siang, sesuai perkiraan, akhirnya sampai juga di warung si bibi, yang jelas gue pengen Bandrek! eh bandrek disini enak sekali loooh, bukan bandrek instan, tapi racikan sendiri..pedes, anget, manisnya pas tenan, minum sambil selonjoran, nikmat sekali, paha udah "ludes" biarin deh, yang jelas gue seneng. Pendakian kecil ini membuat gue bersyukur dikasih hidup, yang jelas gue merasa lemah dan kecil, tiada kuasa. Kepasrahan dan pemandangan yang menakjubkan membuat kebesaran Ilahi lebih terasa.
Jam 2 siang siap2 pulang ke penginapan, si abang ojek yang sudah janji menjemput (cieh janjian loh) sudah tiba, setelah zuhur kita cabut. Motor RX king si tukang ojek menderu, berjalan meluncur kebawah, kadang mesin motornya dimatiin, pemandangan kiri kanan jalan masih belum berubah, tetap menakjubkan, transaksi dagang pengepul dengan petani masih berlangsung, timbang menimbang sayur berjalan. Anak2 sekolah mulai tampak pulang. Dan tentunya masih dingin mengigit.
Setelah sampai di alun2 Ciseureupan, perpisahan dengan si tukang ojekpun berlangsung, jangan kapok dan sering2 kesini ya neng. Tentunya gak sampai nangis2an loh hehehe.
Sore hari udah sampai di Garut, karena seharian energi habis diperas rasa penasaran akan Papandayan, perutpun minta diisi, tujuan selanjutnya rumah makan ampera, bayangan gue: nasi + lauk pauk sundanesse seperti di rumah makan ampera, Bandung. Dan ternyata rasanya...manis lagi :(( ampera disini bukan ampera seperti yang ada di Bandung...ihiks...tapi gak apa2..sikat aja lah.
Setelah sampai penginapan, mandi, dan sholat magrib, gue jalan2 lagi ke jl. Siliwangi, nongkrong di warung kopi yang kemarin, kali ini pesanan gue bukan soda susu jeruk, tapi kopi panas. Nikmaaattt.
Going Home...
Pulang...mari kita pulang...puncak gunung Papandayan masih terlihat dari balik jendela bus, menggantung di langit, termangu, dan masih takjub, yang disesalkan adalah: gak sempet beli pepes ikan mas mak Ecot (bukan mak Erot loh).
Pemandanganpun berganti, memasuki subang, terus ke padalarang, atmosfir kota besar pun sudah terasa, bus sudah memasuki Bandung, masuk tol Cipularang. Terus dan terus...
Hanya perlu waktu 3 jam, dan akhirnya...Welcome home Mimi...
I'll be going to Papandayan again. Dan kali lain semoga gue bisa stay one night up there.
*And live goes on...ayo..kerja lagi!! hap hap hap....*

Kesedihan VS Kesusahan ???

"Sabar ya, semua itu cobaan dari Tuhan, berhentilah menangis, jangan bersedih"
Sebuah kalimat yang berisi kata2 paling sering dilontarkan, mencoba menenangkan hati yang gundah-gulana, sedih, terbuang, kehilangan, dan lain sebagainya.
Tetapi di kala kita merasa senang, suka-cita, bahagia, merasa beruntung (dalam kutip dalam bahasa manusia), kita atau orang lain tidak pernah merasakan itu sebagai cobaan, mungkin ngerti, tapi jarang sadar. Tidak/jarang merasakan alert yang ada dibaliknya. Apakah ini sebuah peringatan? atau amanah untuk membahagiakan keluarga, orang lain, atau masayarakat luas sekalipun?
Apakah ini ujian ketamakan, keserakahan, atau tentang rasa syukur?
Cobaan dalam kesusahaan, sering menjadi koreksi kita. "Mungkin gue kurang beramal" ..."Mungkin gue kurang bersyukur"..."Mungkin, dia memang bukan jodoh gue".
Ya..kesedihan dan kesusahan sering kali membawa perenungan, pencarian terhadap sesuatu yang dapat menyenangkan dan menenangkan diri.
Tetapi apakah kesenangan juga sering membawa kita dalam keadaan demikian?
"Ambil hikmahnya saja"...kata2 ini pun sering terdengar dikala kita "susah". Kalau "senang" ? ...pernah tidak ya?
Bisakah kita mengategorikan senang dan susah dalam satu wadah? sebagai text book yang sama-sama penting dalam pelajaran hidup, yang dapat mematangkan ruhani, yang bisa mengantarkan kita pada sebuah cinta-Nya.
Kalau saja kita bisa selalu tidak tenggelam dalam kesenangan dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan...
Semoga kita tidak pernah berhenti belajar...dan tidak mandeg karena keputus-asaan...

Wednesday, September 07, 2005

Memahami Perbedaan...

Memahami perbedaan. Mungkin memang bukan hal yang mudah, apalagi kalau menyangkut keyakinan dalam memuja sang khalik, penutupan beberapa rumah ibadah akhir2 ini adalah contoh yang konkret. Saat kebenaran hanya diyakini milik sebagian kelompok, saat itu pula anti pati menyelubungi segenap jiwa. Setiap langkah dan cara memuja Sang Maha Kuasa seolah harus sama, tanpa tedeng aling2, berbeda sedikit langsung mendapat stempel kafir, pola pikir seperti ini bukan hanya mendera kaum mayoritas, yang minoritas pun punya pikiran sama (kebanyakan), perbedaan pemujaan dianggap mencemari Sang Khalik. Mungkin ini pikiran dari manusia yang mencoba menebak arah pikiran Sang Pencipta (ah mungkin saya juga sedang melakukannya saat ini) dengan kemanusiaannya yang amat sangat terbatas. Sepertinya Tuhan berada dalam tas, dan tiada kuasa atas alam semesta. Apa memang betul keangkara murkaan yang terjadi adalah manifestasi wajah-Nya? yang disaat menurunkan rizki, memberikan udara, air, panas, hujan, tidak mempedulikan si kaya, si miskin, perampok, ustadz, atau pendeta?
Saat lingkungan mayoritas merasa "dicemari" oleh peribadahan yang lain, saat itu pula iman menemukan goyah, penuh cemas, kuatir, dan merasa diujung tanduk. Lalu merasa terganggu.
Mungkin kalau sudah begitu bisa ditanya; apakah kita sudah total dalam menyatukan diri dengan-Nya? Mengapa niat itu bisa dikalahkan dengan ketakutan? Bukankah seharusnya ibadah itu khusuk, dengan menutup semua koneksi dengan dunia luar saat berniat untuk ibadah, dan tidak merasa terganggu dengan hal lain?
Ibadah menjadi tercemari prasangka, ketakutan, dan kebencian. Saat mulut memuji Tuhan, disaat yang sama tangan menyakiti ciptaan-Nya. Apakah memang begitu?
Kalau merasa terancam dengan kebaikan2 sosial yang dilakukan umat lain, bukankah itu harusnya menjadi koreksi. Mengapa tidak berbuat hal yang sama atau bahkan lebih? menjadi penolong sesama, dan dapat menyegarkan jiwa yang merasa papa, tertindas, miskin, terluka.
Mungkinkah wibawa Tuhan bisa didapat dari kekerasan, baik fisik ataupun mental? Sependek pengetahuan saya, di dalam agama apapun, Sang Khalik itu maha penyayang dan pengasih. Menyiarkan agama dengan mengadopsi sifat2 Tuhan (walaupun tak kan bisa menandingi) mungin bisa lebih menyusup ke dalam setiap jiwa.
Maafkan saya kalau ungkapan isi hati ini membuat angkara, marah, dan terluka...maaf....saya hanya mengungkapkan, menulis dengan menggunakan kemanusiaan saya yang amat terbatas...